Links
Sitemap
 
Senin, 18 Des 2017 
 
Halaman Muka | Apa Itu Lifespring | Pelayanan Kami | Mengapa Lifespring | Aktivitas | Artikel | Merchandise | Kontribusi | Bursa Kerja | Kode Etik | FAQ | Kontak

   ARTIKEL

Konseling
Dua Orang Berbeda, Tetapi Satu
Mengobarkan Kasih Dalam Pernikahan
Bagaimana Menjelaskan Kematian Pada Anak
True Love
Pernikahan: Gambaran Hubungan Manusia dengan Tuhan
Dibentuk dalam Pernikahan
Menangani Konflik Dalam Hubungan Anda
Spending Time with Their Peer
Anak yang Dipercepat
Faith Journey Pada Remaja
Perlunya Bicara tentang Kematian pada Anak
Menghargai Anak
Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

   PENCARIAN

Pernikahan: Gambaran Hubungan Manusia dengan Tuhan

˜A man shall leave his father and mother and be joined to his wife, and the two shall become one flesh. This is a great mystery, but I speak concerning Christ and the church”.

                                                                                    Ephesians 5 : 31 - 32

 

Anda sudah berpacaran dengannya selama bertahun-tahun. Anda mencapai usia ‘matang’ di mana biasanya orang seusia anda dianggap pantas untuk menikah. Lalu anda melamar atau dilamar pasangan anda, dan jawabannya adalah ya. Hari-hari anda kemudian diisi dengan kesibukan pekerjaan sekaligus persiapan hari pernikahan anda. Menentukan tempat resepsi, mencari gaun dan jas pengantin, memilih desain undangan dan kue pengantin, menentukan makanan yang akan dipesan, membuat daftar orang-orang yang akan diundang. Hari pernikahan anda semakin dekat dan stres yang anda rasakan makin meningkat. Muncul konflik antara keluarga anda dan keluarga pasangan mengenai siapa yang akan menanggung biaya pernikahan, dan apa saja yang harus dibeli untuk prosesi adat baik sebelum maupun saat menikah. Anda mulai frustasi dan tertekan. Mungkin juga pasangan anda kelihatan cuek atau plin-plan dalam membantu anda mengambil keputusan atau menangani konflik yang muncul. Lalu anda mulai berpikir bahwa sebaiknya pernikahan ditunda atau dibatalkan saja sekalian.Muncul pertanyaan yang seharusnya diajukan sebelum anda memutuskan untuk mau menikah dengan pasangan anda: “Mengapa anda menikah?”

Mengapa anda ingin menikah? Apa yang anda bayangkan dan idamkan tentang pernikahan?

Pernikahan adalah rancangan Allah agar kita dipersatukan dengan pasangan kita di dalam kasihNya. Pernikahan sebenarnya menjelaskan misteri yang besar, karena di dalamnya manusia bisa melihat Allah dengan lebih jelas. Allah merancang manusia sebagai makhluk relasional, karena Ia sendiri adalah makhluk relasional, tiga pribadi dalam satu kesatuan. Dalam relasi ini Allah menunjukkan kesempurnaan kasih-Nya dalam hubungan antara ketiga Pribadi, sebab Ia adalah kasih. Ia adalah pernikahan itu sendiri, di mana ketiga pribadi menjadi satu. Misteri Allah Trinitas adalah bahwa Allah bukanlah Allah yang monistik (tunggal), tetapi tritunggal (tiga di dalam satu kesatuan) di mana esensi hubungan dari ketiga Pribadi tersebut adalah kasih. Walaupun Ia adalah Allah satu-satunya, keberadaanNya tidak mungkin seorang diri (bahkan sebelum penciptaan) karena Ia adalah kasih, dan kasih menunjukkan bahwa harus ada relasi (minimal dua pribadi).

Itulah yang terjadi dalam pernikahan, bahwa laki-laki menjadi satu dengan istrinya. Pernikahan merupakan analogi terdekat dari hubungan yang dapat terjadi di dunia ini yang dapat menggambarkan apa maksudnya dipersatukan dengan Allah. Ia adalah Pribadi yang dapat kita kenal dengan intim di mana di dalamNya kita mengenal diri sendiri dan dengan demikian kita tahu bahwa kita juga dikenal olehNya. Mengenal Allah berarti dibawa ke dalam hubungan pribadi yang begitu luar biasa, di mana pernikahan hanyalah gambaran yang samar-samar tentang hubungan tersebut.

Pernikahan merepresentasikan betapa dalam dan intimnya hubungan manusia dengan Allah. Di dalam Efesus 5:22-33, dinyatakan bahwa hubungan suami dengan istri adalah sebagaimana hubungan Kristus dengan kita. Kita adalah mempelai wanitaNya. Kita adalah yang dikasihiNya. Kita adalah yang dipilihNya, yang diinginkanNya untuk hidup bersama denganNya. Gairah Tuhan dalam mengasihi kita jauh lebih besar dan lebih menakjubkan dari gairah yang pernah ditunjukkan pasangan kita ketika ia menatap mata kita dalam-dalam. Tuhan mencintai kita jauh lebih besar dari cinta yang kita rasakan dari pasangan kita. Ia memberikan contoh bagaimana seharusnya hubungan kita dengan pasangan kita, yaitu sejalan dengan bagaimana Ia mengasihi kita.

Ketika Allah menciptakan isi dunia ini, Ia melihat bahwa segala sesuatu yang Ia ciptakan adalah baik. Namun ada satu hal yang dilihatNya tidak baik, yaitu ketika manusia itu sendirian. Karena itulah Allah menciptakan pernikahan dengan memberikan seorang wanita kepada manusia itu. Pernikahan merupakan peristiwa di mana bukan hanya mukjizat pertama yang  Yesus lakukan, tetapi bahkan mukjizat pertama setelah penciptaan itu sendiri úHe brought the woman to the manî (Kejadian 2:22). Allah merancang  pernikahan untuk manusia dan Ia senang dengan pernikahan yang dialami manusia. Sehingga ketika seseorang menikah, ia bukan hanya menjalani apa yang menjadi pilihannya dengan siapa yang dipilihnya, tetapi ia masuk ke dalam mukjizat Allah bagi dirinya. Ia masuk ke dalam peristiwa terindah di mana ia bisa merasakan kasih yang unconditional  (tanpa syarat) bagi dirinya, yang hanya mencerminkan sebagian kecil kasih Allah pada dirinya.

Istilah kasih yang tidak bersyarat sebenarnya adalah redundan, karena kasih haruslah tidak bersyarat. Jika kasih bersyarat, maka itu bukanlah kasih. Ketika kita mengatakan bahwa kita mengasihi pasangan kita, apakah kita benar-benar mengasihinya apapun kondisinya? Apakah kita mengasihinya ketika ia menjengkelkan kita? Apakah kita mengasihinya ketika ia nampaknya tidak punya waktu untuk kita? Apakah kita mengasihinya ketika ia berdosa? Apakah kita mengasihinya ketika ia tidak setia (berselingkuh)? Apakah kita mengasihinya ketika ia lemah, tidak berdaya, sakit, dan melelahkan kita? Jika anda menjawab ya untuk pertanyaan-pertanyaan ini (dan banyak pertanyaan lain), maka anda dapat berkata bahwa anda mengasihi/ mencintainya. Jika tidak, pikirkan lagi baik-baik.

Bagaimana kita merasa terhadap pasangan kita adalah bagaimana kita merasa terhadap Tuhan. Ketika kita mengalami bahwa Allah mengasihi kita tanpa syarat, maka kitapun harus mengasihi pasangannya secara tidak bersyarat. Ketika kita belum mampu mengasihi pasangan kita tanpa syarat, maka mungkin sekali bahwa kita belum benar-benar mengalami kasih Allah terhadap diri kita. Jika anda sulit mengasihi dengan tulus pasangan anda sekalipun ia sering menyakiti anda, maka lihatlah pada salib Kristus. Dengan kasihNya yang tak berkesudahan Ia mati bagi dosa anda dan saya. Ketika pasangan anda tidak setia, ingatlah bahwa Allah mengasihi kita bahkan ketika kita tidak setia. Ketika sulit mengampuni pasangan anda, ingatlah bahwa Tuhan mengampuni anda. Ketika lupa bagaimana cantik/ gagahnya pasangan kita karena waktu membawanya pergi, ingatlah bahwa Tuhan mengasihi jiwa kita ketika kita begitu buruk rupa oleh dosa. Ketika seluruh hidup anda nampaknya dihancurkan oleh ketidaksetiaan pasangan anda, lihatlah bahwa Kristus rela dihancurkan oleh dosa kita di atas kayu salib. Dan lihatlah Ia berkata”Aku mengasihimu sebesar ini” sambil merentangkan tanganNya dan mati di atas kayu salib.

Jika anda rindu mengalami kasih dan hadirat Allah lebih nyata dalam hidup anda, jika anda rindu mengasihi pasangan anda sebagaimana Allah mengasihi anda tanpa syarat, jika anda rindu mengalami pekerjaan Tuhan dalam membentuk diri anda lebih indah lagi (walaupun dengan cara yang menyakitkan), jika anda bersedia mati bagi pasangan anda setiap hari agar ia menjadi bahagia, maka menikahlah. Tuhan menyertai anda.

 

                                                                                                                 SA
 

 
Konsultasi
 Copyright © 2007-2009 Lifespring. All Rights Reserved. Developed by Proweb