Links
Sitemap
 
Rabu, 18 Okt 2017 
 
Halaman Muka | Apa Itu Lifespring | Pelayanan Kami | Mengapa Lifespring | Aktivitas | Artikel | Merchandise | Kontribusi | Bursa Kerja | Kode Etik | FAQ | Kontak

   ARTIKEL

Konseling
Dua Orang Berbeda, Tetapi Satu
Mengobarkan Kasih Dalam Pernikahan
Bagaimana Menjelaskan Kematian Pada Anak
True Love
Pernikahan: Gambaran Hubungan Manusia dengan Tuhan
Dibentuk dalam Pernikahan
Menangani Konflik Dalam Hubungan Anda
Spending Time with Their Peer
Anak yang Dipercepat
Faith Journey Pada Remaja
Perlunya Bicara tentang Kematian pada Anak
Menghargai Anak
Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

   PENCARIAN

Mengobarkan Kasih Dalam Pernikahan

Cobalah ingat apa yang anda rasakan ketika kencan pertama kali dengan pacar anda. Ingatkah betapa anda merindukan pasangan anda setiap kali anda tidak bisa bertemu dengannya? Ingatlah betapa terharunya dan berbunga-bunganya hati anda ketika anda bertemu dengan pasangan anda di altar dan mengucapkan janji untuk membagi hidup berdua dalam kondisi apapun. Masa-masa bulan madu rasanya seperti mabuk oleh cinta. Rasa sayang meluap di dalam dada sampai rasanya sakit hanya dengan mensyukuri betapa beruntungnya anda karena memilikinya.

Namun sekarang berbeda. Anda bukan lagi seorang yang melihat pasangan anda dan menemukan semua hal yang anda puja tentang dirinya. Kebaikannya terasa hambar dan keburukannya terasa menyakitkan. Anda tidak lagi mengecupnya sebelum berangkat kerja atau sebelum tidur dan ketika bangun tidur. Ia tidak lagi melakukan hal-hal romantis yang dulu sering dilakukannya ketika pulang membawa bunga dan pelukan yang hangat. Waktu-waktu romantis saat makan malam diakhiri dengan rutinitas mencuci piring. Waktu berdua dengannya sekarang ditemani oleh anak-anak yang memanggil-manggil kita karena kebutuhannya dan mengalihkan perhatian kita darinya. Waktu ngobrol dengannya diganti dengan pemberitahuan tentang siapa yang harus dijemput, apa yang harus dibeli, dan acara yang harus dihadiri. Anda lelah, kehilangan gairah, dan bosan dengan pernikahan anda, bahkan bosan dengannya. Di mana cinta yang dulu anda rasakan?

Kadang-kadang anda mulai berpikir-pikir. Kelihatannya anda tidak cocok dengannya, dan anda baru menyadarinya setelah bertahun-tahun tinggal dengannya. Kelihatannya ada saat-saat di mana ia sudah tidak menginginkan anda. Kelihatannya ia lebih peduli dengan karir atau anak-anak dan menganggap kita tidak terlalu penting lagi. Kelihatannya pria yang anda temui di tempat fitness atau wanita yang anda temui di sekolah anak anda sangat menarik. Kelihatannya sudah tidak bisa lagi hidup dengannya. Iapun mulai dekat dengan orang lain dan semakin jarang menghabiskan waktu di rumah. Dan anda memikirkan opsi tentang perceraian. Ada sesuatu yang salah di sini. Anda merasakannya, tapi tidak mengerti apa itu dan harus melakukan apa.

Apa yang salah dalam kisah di atas? Apakah masing-masing pasangan terlalu sibuk? Apakah suami terlalu fokus pada pekerjaan dan istri terlalu fokus pada anak? Apakah gairah cinta padam karena telah bertahun-tahun menikah dan pasangan bukan lagi seseorang yang menarik karena kita sudah tahu terlalu banyak tentangnya? Apakah karena masing-masing tidak meluangkan waktu untuk komunikasi? Apakah kehidupan pernikahan demikian menuntut waktu, energi, dan perhatian kita untuk hal-hal lain selain pasangan kita?

Semua alasan di atas (dan banyak lagi alasan lainnya) hanyalah manifestasi dari inti masalah sesungguhnya. Inti masalah sesungguhnya adalah ketika kita membiarkan diri kita menjauh dari pasangan kita (apapun bentuknya) dan memberikan ruang lebih besar untuk diri kita sendiri dalam melakukan bagian kita (baik pekerjaan maupun anak). Ini adalah kondisi di mana kita membiarkan diri kita terpisah dari pasangan kita.

Kesatuan kita dan pasangan ditentukan oleh seberapa melekatnya kita berdua pada Tuhan, sumber kasih itu sendiri. Ketika kita membiarkan kesibukan hidup mengambil alih waktu persekutuan kita dengan Tuhan (yang dilakukan bersama pasangan), maka kita mulai berjalan ke arah yang berbeda. Satu kegiatan yang menyatukan kita dengan pasangan adalah waktu doa bersama dengannya. Ketika berdoa, maka kita menjadi satu di dalam roh, bukan hanya bersama dengan pasangan kita, tetapi juga bersama dengan Tuhan. Ini adalah ikatan supranatural yang mampu menguatkan dan menjaga kesatuan kita dengan pasangan. Kasih, visi, dan sukacita yang ada dalam relasi ketiga pribadi inilah yang terus melekatkan kita menjadi satu pribadi dengan pasangan.

Ambillah waktu untuk berdoa bersama. Sharingkan bukan hanya kejadian sehari-hari, tapi juga pengalaman iman, pertumbuhan, dan beban/visi yang anda alami dari Tuhan. Ini adalah hal yang utama. Selain itu tambahkanlah usaha ekstra untuk menciptakan sesuatu yang bernilai dan menyenangkan pasangan anda. Mungkin baginya waktu, kebersamaan, hadiah, kecupan, dan belaian kasih sayang sangatlah berharga. Berikanlah semua itu dan lebih lagi, berikanlah hati anda untuknya setiap hari, sebagaimana Tuhan melakukannya bagi anda. Selamat mengobarkan kasih dalam pernikahan anda.

 

                                                                                                                    SA 

 
Konsultasi
 Copyright © 2007-2009 Lifespring. All Rights Reserved. Developed by Proweb