Links
Sitemap
 
Senin, 18 Des 2017 
 
Halaman Muka | Apa Itu Lifespring | Pelayanan Kami | Mengapa Lifespring | Aktivitas | Artikel | Merchandise | Kontribusi | Bursa Kerja | Kode Etik | FAQ | Kontak

   ARTIKEL

Konseling
Dua Orang Berbeda, Tetapi Satu
Mengobarkan Kasih Dalam Pernikahan
Bagaimana Menjelaskan Kematian Pada Anak
True Love
Pernikahan: Gambaran Hubungan Manusia dengan Tuhan
Dibentuk dalam Pernikahan
Menangani Konflik Dalam Hubungan Anda
Spending Time with Their Peer
Anak yang Dipercepat
Faith Journey Pada Remaja
Perlunya Bicara tentang Kematian pada Anak
Menghargai Anak
Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

   PENCARIAN

Dibentuk dalam Pernikahan

 

 

As iron sharpens iron, so one person sharpens another (Proverbs 27:17)

Pernikahan merupakan relasi terdalam yang dapat dimiliki manusia dengan manusia lainnya. Relasi terdalam ini dapat membuat kita merasa berada di jurang yang dalam, di mana sebelumnya dengan buta kita bersedia dituntun ke pinggir jurang dan diajak untuk mencemplungkan diri ke dalamnya. Dan inilah kenyataan yang dirasakan banyak orang, bahwa mereka merasa ditipu oleh angan-angan/ impian indah yang mereka nanti-nantikan tentang pernikahan. Mereka merasa ditipu oleh janji dan rencana pasangannya bahwa mereka akan berubah menjadi orang yang lebih baik, tetapi tidak pernah dipenuhi. Mereka merasa kecewa dan putus asa melihat sifat dan perilaku buruk pasangannya yang tidak pernah berubah dan kelihatannya tidak akan berubah.

Satu hal yang mungkin mengejutkan hampir semua orang dalam pernikahan adalah perasaan diawasi sepanjang waktu, di pagi hari, di malam hari, di tempat tidur dan di kamar mandi, ketika berpakaian ataupun telanjang. Bahkan bukan hanya ketika pasangan kita muncul secara fisik, tetapi juga saat mereka tidak bersama dengan kita, tetapi hadir di dalam hati dan pikiran kita. Inilah relasi di mana satu orang hidup berdampingan dengan (dan diatur oleh) manusia lain setelah sebelumnya ia merasakan kebebasan yang dimulai ketika ia remaja. Semua perilaku kita diamati, seakan-akan ada kamera yang menyorot kehidupan kita selama 24 jam. Seluruh kata-kata kita didengar dan dikoreksi. Pernyataan kita dipertanyakan maksudnya. Seluruh keputusan pribadi harus dibicarakan  terlebih dahulu. Seluruh waktu dihabiskan untuk menyenangkan pasangan kita. Bahkan cara kita melakukan sesuatu mungkin dikritik atau dianggap lucu.

Mengapa kita merasa risih dilihat dan diperhatikan sepanjang waktu adalah karena kita berdosa. Ketika Adam dan Hawa diciptakan Allah dalam keadaan tidak berdosa, “mereka berdua telanjang dan tidak merasa malu”, karena tidak ada yang perlu disembunyikan di antara mereka (Kejadian 2:25). Namun begitu mereka jatuh, mereka langsung membuat cawat untuk menutupi tubuh mereka (Kejadian 3:7). Mereka menutupi tubuh bukan karena dingin, tetapi karena mereka berdosa dan merasa malu oleh keberadaan diri yang berdosa. Satu-satunya ciptaan yang menutupi tubuhnya adalah manusia, sementara ciptaan lainnya telanjang di hadapan Tuhan dan memancarkan kemuliaanNya. Rasa malu muncul ketika kita tidak punya apa-apa lagi yang bisa kita banggakan. Di dalam dosa kita menjadi gambar Allah yang rusak, yang berubah menjadi gambar yang tidak membanggakan dan memancarkan kemuliaanNya.

Kita tidak ingin orang lain tahu apa yang kita lakukan, terlebih oleh pasangan kita. Kita tidak ingin pasangan kita tahu bahwa kita mencemooh orang lain. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita malas pergi kerja. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita malas membersihkan rumah atau bahkan tubuh kita. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita mudah sekali marah oleh hal-hal kecil atau oleh kesalahan orang lain. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita menyimpan dendam pada orang tertentu. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita belum menyelesaikan ketegangan dengan keluarga kita selama bertahun-tahun. Kita tidak ingin ia tahu apa yang kita lakukan di kamar mandi ketika tidak ada orang yang melihat. Kita tidak ingin ia tahu bahwa kita menyembunyikan perasaan tertentu pada lawan jenis kita yang lain.

Kita ingin dilihat sebagai orang baik yang penuh perhatian dan kasih sayang padanya. Kita ingin ia memiliki image tentang kita sebagai orang yang bertanggung jawab, berani, bersedia berkorban, dewasa, dan dapat diandalkan. Kita ingin ia menganggap bahwa kita adalah orang yang menyenangkan sepanjang waktu, konsisten dan independen. Demikian jugalah yang dirasakan oleh pasangan kita. Ia ingin kita melihatnya sebagai pasangan yang sempurna bagi kita. Ia ingin kita mengasihinya karena ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi pasangan yang baik bagi kita.

Namun kita harus menyadari bahwa ini bukanlah kenyataannya. Natur kita bukanlah melakukan apa yang baik. Natur kita bukanlah untuk menyenangkan orang lain, karena sebenarnya kita ingin menyenangkan diri sendiri. Kita ingin pernikahan membuat kita bahagia. Kita ingin pasangan kita berubah, bukan menjadi serupa dengan Kristus, tetapi menjadi seseorang yang serupa dengan diri kita. Kita ingin pasangan kita membahagiakan kita, berkorban untuk kita, dan memenuhi kebutuhan kita. Kita merasa malu apabila pasangan kita melakukan kesalahan di depan orang lain, sehingga kita turut menyalahkannya karena membuat kita merasa demikian. Kita merasa sebal/ kesal ketika pasangan kita tidak memenuhi janjinya atau tidak juga berubah menjadi gambaran ideal yang kita miliki tentangnya.

Inilah relasi di mana kita melawan natur kita sebagai orang berdosa, di mana setiap hari kita harus ‘mati’ untuk pasangan kita. Setiap hari kita dikikis dan dibentuk oleh pasangan kita dengan melepaskan lapisan-lapisan kesombongan dan ego yang kita kenakan, agar pasangan kita dapat melihat seutuhnya siapa kita yang sebenarnya. Kita yang sebenarnya adalah orang yang penuh dengan kelemahan dan dosa. Di sinilah, ketika kita tiap hari rela mati terhadap diri sendiri untuk hidup bagi pasangan kita, maka kita akan ditajamkan untuk menjadi makin serupa dengan Kristus. “Seperti besi menajamkan besi, demikian manusia menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17). Tidak ada hubungan lain selain pernikahan di mana kita benar-benar diasah dengan keras dan menyakitkan untuk menjadi makin tajam di dalam karakter yang ilahi.

Kemalasan untuk mengasihi dikikis karena setiap hari kita harus mengasihi pasangan kita, bahkan setiap detik hidup kita. Nafsu terhadap orang lain di luar pernikahan dikikis karena untuk memperhatikan pasangan kita tanpa membaginya dengan orang lain saja sudah bisa membuat kita kewalahan. Ketika kita sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan pasangan kita, maka kita tidak akan punya waktu lagi untuk melihat apakah ada orang lain yang lebih menarik di luar sana. Kesombongan diri dikikis karena pasangan bisa melihat dengan jelas kekurangan kita. Kita tidak lagi bisa mengakui bahwa kita adalah orang yang bisa segala-galanya, karena mungkin membetulkan atap yang bocor saja kita tidak mampu. Keegoisan dikikis karena pasangan kitalah yang harus menang, yang harus diperhatikan.

Pengikisan/pengasahan paling tajam adalah ketika kita harus menghadapi akibat dari dosa pasangan kita terhadap kehidupan pernikahan kita. Karena di sinilah kita merasa paling sakit. Saat inilah kita merasa diremukkan dan dihancurkan oleh pasangan kita, sementara di saat yang sama kita harus bangkit bagi pasangan kita. Satu-satunya cara untuk bertahan dan menang terhadap pembentukan ini ialah dengan kasih. Di dalam kasih, kita akan dimampukan untuk berani menghadapi dan menanggung dosa pasangan kita.  Karena itulah kita tidak lagi menjadi takut atau malu terhadap pasangan kita, karena kita tahu bahwa iapun bersedia menanggung dosa kita. Cinta sejati mengalahkan segala ketakutan, termasuk ketakutan untuk masuk ke ruang paling gelap di dalam hati pasangan.

Perfect love drives out fear, because fear has to do with punishment” (1 John 4:18). Dengan cinta ilahi dari Tuhan, kita bersedia untuk masuk ke dalam kelemahan pasangan kita dan menolongnya keluar bersama Tuhan. Kita dapat menerobos keluar dari dinding-dinding keegoisan kita untuk merangkulnya dan menyatakan bahwa kita betul-betul mencintainya.

 

Terinspirasi dari buku The Mystery of Marriage karangan Mike Mason.

                                                                                                                       SA
 

 
Konsultasi
 Copyright © 2007-2009 Lifespring. All Rights Reserved. Developed by Proweb