Links
Sitemap
 
Senin, 18 Des 2017 
 
Halaman Muka | Apa Itu Lifespring | Pelayanan Kami | Mengapa Lifespring | Aktivitas | Artikel | Merchandise | Kontribusi | Bursa Kerja | Kode Etik | FAQ | Kontak

   ARTIKEL

Konseling
Dua Orang Berbeda, Tetapi Satu
Mengobarkan Kasih Dalam Pernikahan
Bagaimana Menjelaskan Kematian Pada Anak
True Love
Pernikahan: Gambaran Hubungan Manusia dengan Tuhan
Dibentuk dalam Pernikahan
Menangani Konflik Dalam Hubungan Anda
Spending Time with Their Peer
Anak yang Dipercepat
Faith Journey Pada Remaja
Perlunya Bicara tentang Kematian pada Anak
Menghargai Anak
Mempersiapkan Anak Masuk Sekolah

   PENCARIAN

Bagaimana Menjelaskan Kematian Pada Anak
 

Binatang peliharaan si kecil tiba-tiba saja meninggal akibat sakit. Anda tidak sampai hati membiarkannya melihat binatang tersebut tergeletak kaku lalu bersedih karenanya. Maka anda membawa binatang tersebut, menguburnya di suatu tempat, membeli binatang yang kelihatannya persis sama, lalu pulang kembali dengan wajah ceria karena anda telah melindungi anak anda dari kesedihan yang tidak menyenangkan.

Perilaku di atas mungkin dilakukan oleh anda atau orang lain yang anda kenal dalam bentuk yang sama atau berbeda. Intinya adalah anda merasa bahwa anak anda tidak atau belum perlu memikirkan tentang kematian karena usianya masih sangat muda dan ia toh belum mengerti jika anda menjelaskan padanya apa yang terjadi.

Persepsi ini dimiliki oleh hampir semua orang tua, padahal ini adalah persepsi yang salah. Anak kecil sebenarnya dapat memahami tentang kematian, bahkan mereka memikirkannya atau bertanya-tanya mengenainya. Namun mereka tidak mendapat penjelasan yang benar karena orangtua seringkali menghindar, diam, atau melarang anaknya bertanya tentang hal yang menakutkan ini.

Kematian sesungguhnya adalah hal alamiah yang pasti akan terjadi pada setiap orang. Ketika kita sebagai orangtua berusaha menghindarkan anak dari topik ini, maka kita sebenarnya menghambat anak-anak untuk memahami apa yang tetap ada dan menghantui dalam pikiran mereka. Ketakutan ini seringkali bersumber dari ketakutan orangtua sendiri terhadap kematian, atau ketakutan terhadap apa yang mereka rasakan ketika seseorang yang mereka sayangi meninggal.

Bagaimana menyatakan kepada anak tentang kematian orang tua bergantung pada usia anak dan pandangan keluarga tentang kematian. Dalam memberikan penjelasan mengenai kematian, orangtua harus jujur dan harus mengungkapkan informasi dalam cara yang masuk akal bagi anak. Pertanyaan anak akan mengindikasikan kebutuhan akan tambahan informasi, yang kemudian dapat diberikan orangtua.

Karena setiap situasi unik dan perlu ditangani dengan kepekaan, tidak mungkin menentukan secara persis apa yang harus dikatakan orangtua. Grollman menyatakan bahwa ada beberapa penjelasan yang harus dihindari. Jika mereka sendiri tidak percaya, orangtua seharusnya tidak menggambarkan surga dan mengatakan pada anak bahwa orangtua yang meninggal bahagia untuk selamanya. Anak akan merasakan kesenjangan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dirasakan orangtua dan menjadi lebih bingung. Juga tidak bijaksana untuk mengatakan bahwa orangtua telah pergi jauh, karena anak akan menanti kembalinya orangtua atau merasa marah karena diabaikan.

Juga tidak bijaksana mengatakan bahwa orangtuanya meninggal “karena Tuhan menyayangi orang baik dan menginginkan mereka di surga”. Jika kebaikan diganjar dengan kematian, anak mungkin menghindari perbuatan baik atau berasumsi bahwa mereka yang hidupnya lama itu jahat. Terakhir, ketika kematian disamakan dengan tidur, beberapa anak akan mulai takut tidur dan tidak mau tidur.

Anak kecil belajar dan memahami kematian paling baik lewat penjelasan secara biologis (acuan dari Slaughter). Orangtua perlu mencoba lebih memahami cara berpikir anak yang memandang dunia dengan cara yang konkret. Mereka belum dapat berpikir abstrak, sehingga orangtua harus menyesuaikan penjelasan yang diberikan dengan kemampuan berpikir anak. Beberapa penjelasan yang dapat diberikan, menurut penelitian yang dilakukan Slaughter (2003):

  1. Irreversibility/finality, pemahaman bahwa yang sudah mati tidak dapat hidup kembali.
  2. Universality/applicability, pemahaman bahwa semua makhluk hidup (dan hanya makhluk hidup) dapat mati.
  3. Personal mortality, pemahaman bahwa kematian juga dapat/ akan terjadi pada diri sendiri.
  4. Inevitability, pemahaman bahwa semua makhluk hidup suatu saat pasti akan mati.
  5. Cessation/non-functionality, pemahaman bahwa setelah mati fungsi tubuh dan mental berhenti. Ketika makhluk hidup meninggal, maka ia tidak lagi dapat bergerak. Ia tidak dapat berpindah tempat ataupun tiba-tiba muncul di tempat lain. Selain itu ia juga tidak dapat lagi berpikir dan merasa, dan tidak lagi membutuhkan makanan atau minuman.
  6. Causality, pemahaman bahwa kematian disebabkan oleh fungsi tubuh yang berhenti bekerja. Penyebab kematian bisa bermacam-macam, seperti sakit, kecelakaan, usia tua, ataupun disengaja (misalnya pembunuhan atau bunuh diri). Namun pada dasarnya mati berarti bahwa tubuh, termasuk organ-organ di dalamnya tidak mampu lagi berfungsi.
  7. Unpredictability, pemahaman bahwa waktu kematian tidak dapat diprediksi/ diketahui lebih awal, karena itu tidak ada siapapun yang dapat mengetahui kapan seseorang akan mati.

                           

                                                                                                                    SA
 

 
Konsultasi
 Copyright © 2007-2009 Lifespring. All Rights Reserved. Developed by Proweb